Rencana Perkawinan yang Membuka Wawasan

Di kebaktian hari Minggu itu, ada altar call yang memanggil jemat untuk maju ke depan untuk sebuah pertobatan. Dari banyak orang yang maju untuk menyatakan pertobatannya, terlihat Rusti, seorang wanita muda ikut maju. Yang menarik bukan karena ia cantik dan muda, tetapi karena sudah banyak orang yang mengenal reputasi Rusti di bidang “perdosaan”. Banyak orang menganggap Rusti adalah wanita jalang. Walau diminta untuk menundukkan kepala, jemaat yang tidak maju banyak yang malah berbisik. Dari mimik mereka kentara sekali adanya cibiran untuk Rusti.

Waktu terus berlalu dan Rusti si wanita muda itu semakin aktif di gereja. Pada suatu pagi sebelum kebaktian ia datang ke pendeta.

“Pak Pendeta, kalau diberikan kesempatan, saya mau ikut dalam pelayanan anak. Saya mau jadi guru sekolah minggu.”

“Oh boleh saja.” Jawab Pendeta, “Saya nanti beri tahu bu Nancy ya. Biar dia yang berikan beberapa pelatihan supaya kamu siap untuk pelayanan sekolah minggu.”

Pelatihan itu berjalan beberapa waktu dan Rusti diberikan beberapa kesempatan untuk melayani di sekolah minggu. Ini terus berjalan sampai tiga tahun. Kesungguhan Rusti melayani menyebabkan ia disenangi banyak anak.

Namun selain itu, kesungguhan Rusti dalam pelayanannya ternyata tidak hanya menyenangkan anak sekolah minggu. Albert, Pendeta muda di gereja itu juga suka pada Rusti. Mereka berpacaran satu tahun dan kemudian memutuskan untuk menikah.

Pada hari Minggu siang setelah kebaktian Paskah, diadakan acara ramah-tamah. Di bagian akhir acara itu, Pendeta mengungkapkan kepada sidang majelis tentang rencana pernikahan Pendeta muda Albert dengan Rusti.

Rupanya rencana pernikahan ini tidak disukai oleh para anggota majelis, setelah doa penutup dan berjabatan tangan saling mengucapkan selamat Paskah, tanpa segan mereka “mengingatkan” Pendeta tentang ketidaksepadanan antara Albert seorang pendeta muda yang sangat berdedikasi dengan Rusti seorang “mantan” wanita jalang.

Rapat pelayanan Paskah siang itu yang rencananya sudah berakhir jam dua jadi molor. Ketidakpuasan tentang kelayakan seorang mantan pendosa menjadi istri Pendeta menjadi semakin panas karena banyak anggota majelis yang tidak dapat menerima kehadiran Rusti sebagai calon “ibu Pendeta.”

Seorang Penatua senior angkat bicara: “Selama ini kami berdiam diri, karena dia melayani anak-anak. Tak apalah… mereka tidak tahu apa reputasi guru sekolah minggu mereka kan? Kami pun tidak ingin usil mempermasalahkannya. Kami diam. Kami tidak membuka aibnya.”

Penatua lainnya berkata: “Kalau anak-anak bisa terpesona dengan kecantikan dan keramahannya, saya tidak! Sebenarnya saya sudah ingin menegur Pendeta Albert waktu saya dengar dia menjalin hubungan dengan nona Rusti. Tetapi saya urungkan karena saya pikir ini tidak akan berakhir dengan suatu pernikahan. Kalau mereka menikah, saya tidak bisa membayangkan harus sering bersalaman dengan dia yang saya tahu bagaimana latar belakangnya. Aaah yang benar aja….”

Ruang rapat majelis semakin riuh karena semakin banyak pandangan ketidaksetujuan atas rencana pernikahan ini. Para penatua yang tadinya berbicara agak tenang semakin meninggikan suaranya. Mereka semakin bersemangat karena hampir semua peserta rapat mengutarakan ketidaksetujuannya. Hanya sedikit yang abstein.

Setelah riuh lebih dari satu jam, tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka dan Pendeta muda Albert masuk bersama Rusti sang calon. Pasangan ini memang dipanggil oleh Pendeta untuk mendengarkan langsung ketidaksetujuan para anggota majelis.

Seketika ruangan menjadi senyap. Para penatua anggota majelis terpana dengan kehadiran “pasangan tidak sepadan” ini. Hanya beberapa detik berlalu, pak Pendeta mulai angkat bicara: “Bapak ibu para anggota majelis gereja yang saya hormati. Rencana baik tentang pernikahan Pendeta muda Albert dengan nona Rusti sudah saya ungkapkan tadi.”

Suasana hening.

“Saya mendengar ada beberapa pendapat yang bagus untuk kita renungkan. Ya, pendapat yang bagus, karena banyak berkaitan dengan yang Tuhan Yesus ajarkan.”

“Namun, untuk membuat pertemuan ini benar-benar berbuah, baik untuk pasangan Pendeta Albert dan calonnya dan juga untuk kita semua, marilah kita ungkapkan pendapat kita dengan baik. Silakan duduk Bapak dan Ibu sekalian.”

Para anggota majelis yang tadinya berdiri, serentak menduduki kursinya lagi.

Dan agar kita lebih siap, marilah kita memuji Tuhan terlebih dahulu dengan bernyanyi dari Buku Ende Logu nomor 598 BEGE ENDE NI SURUAN, ayat 3

Jesus Raja Hadameon sondang hatigoran i. (Yesus Raja Perdamaian cahaya kebenaran)
Panondang ni hangoluan disaluhut jolma i. (Yang menerangi kehidupan untuk semua manusia)
Dirumari do diriNa lao manobus manisia. (DiriNya dikorbankan untuk menebus manusia)
Asa unang mate be ala ni dosana be. (Agar tidak mati karena dosa-dosanya)
Ende ni Suruan I, sangap ma di Tuhan i. (Inilah kidung malaikat, terpujilah Tuhan)

Setelah selesai menyanyikan satu ayat pujian itu, Pendeta menatap sekeliling ruangan. Masih senyap. Tidak ada yang berbicara. Lalu Pendeta mulai berbicara lagi: “Bapak Ibu sekalian, di tengah kita sekarang sudah ada Pendeta muda Albert bersama calonnya. Bila Bapak atau Ibu ada yang ingin memberikan masukan untuk rencana pernikahan pasangan ini, saya berikan waktu. Silakan bicara, dimulai dari Bapak Ibu yang merasa yang dosanya tidak banyak.”

Suasana semakin hening. Semua kepala terunduk. Tidak ada yang menoleh ke kanan atau kiri.

Para penatua yang tadinya lantang berbicara nampaknya sudah kehilangan selera. Ibu-ibu yang tadinya menggerak-gerakkan mulutnya ke bawah juga ikut menunduk.

Pendeta melanjutkan:

Baiklah… Saat ini saya berbicara bukan karena saya yang paling tidak berdosa, namun karena saya kira ada sesuatu yang harus diluruskan.

Sebenarnya yang sedang kita adili pada ruangan ini bukanlah pasangan Pendeta Albert dan nona Rusti. Marilah kita merenungkan sesuatu yang lebih dari itu.

Hari ini saya mendapatkan gambaran bahwa banyak di antara kita, majelis gereja ini,  sedang habis-habisan menyatakan betapa sucinya kita dibanding orang lain.

Kita sedang membandingkan antara orang yang satu dengan orang yang lain. Orang yang satu lebih layak dibanding dengan yang satunya lagi, sehingga seolah mereka tidak sepadan, padahal mereka sama-sama pernah berbuat dosa dan sama-sama diampuni oleh Tuhan.

Sebetulnya apa yang sedang kita adili?

Sesungguhnya kita sedang mengadili kemampuan Tuhan Yesus untuk mengampuni.

Sesungguhnya kita sedang menyatakan keraguan kita untuk keabsahan pengampunan yang Tuhan sudah bayar di kayu salib.

Perjalanan pelayanan kita yang sudah panjang ini ternyata masih belum cukup memberikan pengertian tentang alasan mengapa Kristus harus mati. Bukankah Ia mati agar kita yang berdosa ini beroleh pengampunan? Itulah hal mendasar dari iman Kristen!

Mungkin kita perlu sekali lagi bertobat, karena menganggap bahwa pengampunan yang kita terima adalah sepenuhnya sah, sedangkan pengampunan yang diterima orang lain masih kurang sah. Siapakah kita yang berwenang menentukan sah atau tidak sahnya atas pengampunan Tuhan?

Saya bersyukur kita bisa menyanyikan ayat tiga lagu tadi dengan baik. Teruslah nyanyikan ayat itu, karena Darah Kristus yang tercurah sudah menebus dosa dunia, termasuk kita. Dan semua itu sepenuhnya sah.

Di kayu salib Ia sudah berteriak ‘Tetelestai….’ Sudah selesai. Penebusan itu sudah lunas dan sah untuk kita yang mau menerimanya! Dan Dia tidak berhenti sampai di situ. Pada hari yang ketiga Ia bangkit. Sebagaimana kesaksian Paulus, “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” I Kor 15:17.

Semoga kita sependapat bahwa kita tidak lebih benar daripada seorang pendosa besar yang bertobat dan menerima pembenaran dari Tuhan.

Marilah saling berjabat tangan. Percayalah bahwa pengampunan itu lebih dari cukup untuk dosa kita yang terkelam sekalipun. Terimalah semua orang yang bertobat seperti kapas yang putih bersih yang tidak lagi perlu dihakimi oleh manusia. Percayalah dalam Yesus dosa kita telah diampuni. Karena itu pula ada jaminan keselamatan bagi kita. Lalu marilah kita pelihara keselamatan itu.

Selamat merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus. Amin.

ts.130331

Diinspirasikan dari http://www.inspire21.com/stories/christianstories/ThePastorsSon

Advertisements

Keunikan Mazmur 118

Ada fenomena menarik dalam Alkitab yang tebal itu. Di tengahnya terdapat kitab Mazmur. Lalu di dalam kitab itu terdapat pasal 118 yang adalah pasal yang persis di tengah Alkitab.

Nah, pada Mazmur pasal 118 tsb terdapat 6 keunikan, yaitu:
1.  sebelum Mazmur 118, Mazmur 117 adalah pasal terpendek pada Alkitab.
2.  setelah Mazmur 118, Mazmur 119 adalah pasal terpanjang pada Alkitab.
3.  sebelum Mazmur 118 ada 594 pasal.
4.  sesudah Mazmur 118 ada 594 pasal.
5.  kalau seluruh pasal dijumlahkan, di luar Mazmur 118, ( 594 + 594 ) semuanya berjumlah 1188 pasal.
6.  angka 1188 atau Mazmur 118:8 juga merupakan ayat yang terletak di tengah Alkitab.

Kalau Tuhan sudah meletakkan ayat tersebut persis di tengah Alkitab seperti itu, pasti ayat itu sangat penting bukan? Benar sekali. Ada prinsip yang harus kita pegang yang dituliskan di situ.

Mazmur 118:8 itu berbunyi:

“Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.”

Tuhan memberkati Anda.

Sumber: Posting BBM 120208 pak Joseph Tjakra

Mobilku Hilang

Waktu itu hari Sabtu sore, aku pergi ke gereja untuk sebuah pertemuan.  Cuma sebentar. Jam 16.00 kami sudah bubar. Sewaktu mau pulang aku tidak mendapatkan kunci mobilku di kantong. Aku kembali ke dalam dan mencarinya di tempat tadi aku duduk. Ternyata tidak ada juga.

Tiba-tiba aku ingat kebiasaanku yang lebih suka meninggalkan kunci di mobil, karena aku berpendapat memang di situlah kunci paling aman ditaruh. He he… aku memang pelupa, jadi dari pada lupa mendingan tinggalkan kunci di tempatnya saja di mobil.

Memang ini yang sering bikin masalah aku dengan istri di rumah. Dia selalu ngomel kalau aku tinggalkan kunci di mobil. “Itu sama saja dengan membiarkan orang mencuri mobilmu!” Aku sampai hapal kalimat yang sudah ratusan kali dia ucapkan itu. Tapi menurutku “kalau Tuhan tidak izinkan, maka mobil itu pasti tidak hilang.” Rohani sekali ya….

Sambil berlari kecil ke lapangan parkir, aku senyum-senyum mengingat ucapan istriku si “ratu  kuatir” itu. He he… kalau ada maling di gereja, pasti dia adalah calon petobat baru, pikirku sambil terus tersenyum.

Sesampai di halaman parkir, aku tidak melihat mobilku. Sambil melambaikan tangan ke rekan lain yang pulang duluan, mataku masih celingak-celinguk mencari mobilku. Aku ingat betul posisi tempat parkir tadi. Warna mobil itu merah Ferrari, jadi terlalu ngejreng untuk tidak terlihat di sore yang cerah ini. Ke mana ya….

Senyuman mulai pudar setelah aku yakin bahwa mobil itu memang  sudah tidak di tempatnya. Sisa Innova hitam pak pendeta  di halaman parkir. “Aah… mobilku yang cuma satu-satunya itu hilang?” Aku mulai panik. Aku bahkan tidak peduli kala pak Pendeta beranjak pulang dan menawarkan tumpangan padaku. Ajakannya hanya kutampik dengan senyum kecut. Tanpa kata. Semoga beliau tak tersinggung.

Kepanikan semakin memuncak setelah semua orang di sekitar lapangan parkir bilang tidak melihat mobil itu. Hadoooh…. Aku duduk menenangkan diri, sambil merenungkan betapa malunya aku yang tidak mendengarkan nasihat istriku.

Pergi ke kantor polisi adalah tindakanku selanjutnya untuk membuat laporan dan menjelaskan semua permasalahan termasuk identitas mobilku. Setelah itu aku duduk termenung di pelataran kantor polisi…. Aku masih di situ bukan karena terhibur dengan tatapan iba para petugas jaga padaku, tapi karena memang aku tidak tahu mau ke mana. Seleraku pupus….

Setelah beberapa waktu berlalu, kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan jam 20.15.  “Aah… sudah ngga iya nih,” pikirku. Sudah terlalu malam, dan aku berpikir lebih baik mengaku salah kepada istriku dan memberitahukan masalahku.

Aku ambil hape dan memberanikan diri menghubungi istriku. Tapi belum terjadi sambungan, ternyata istriku sudah menghubungiku duluan. Hape itu masih di telingaku namun hape itu berbunyi nada ringtone yang kupakai khusus untuk istriku, dentingan piano tunggal Op. 55 Nocturne No. 2 in Eb Major karya Chopin. Jadi tanpa lihat hape, aku sudah tahu bahwa itu adalah telpon masuk dari istriku.

Aku tidak langsung jawab, aku nikmati dulu dentingan piano itu sambil berusaha menenangkan diri dan merancang kata-kata.

Setelah merasa siap, aku tekan tombol hijau lalu diikuti sapaan “Ya sayang….”

Sapaan “sayang” memang favorit istriku dan selalu kuucapkan padanya bila aku membutuhkannya. Biasanya dia selalu menjawab balik dengan sapaan mesra juga. Tapi kali ini jelas berbeda. Tiba-tiba di seberang sana suara istri aku terdengar menggelegar, “Pah…. apa-apaan sih… ditelpon-telpon ga ngangkat!”

Suaranya begitu keras sehingga dengan refleks aku jauhkan hape itu dari telinga. Aku tidak lagi mendengar jelas apa yang diucapkannya. Hati ini terlalu galau untuk mendengarkan guruh yang tak terduga itu.

Sambil hape masih jauh dari telinga kudekatkan mike hape ke mulut dan mulai bertanya, “Kenapa mah…. Mama di mana?” Kudengar dia berbicara cepat dan keras bak Shakira menyanyikan Addicted to You yang bahasanya tak kumengerti. Hanya nada tinggi saja yang kutangkap. Ret tet tet tet… Ret tet tet tet….

“Gimana mah…? Apa sih…?” Kataku pura-pura tak mendengar suaranya. Tapi hatiku mulai menuduh, “Ooh mungkin pak Pendeta sudah lapor ke istriku kalau mobilku hilang. Ini sudah intervensi!” Pikiranku semakin ngawur.

Samar-samar kutangkap istriku berkata, “Bapa di mana…?”

Sambil memandangi hape aku berkata, “di gereja mah….” Maaf, saat itu kepiawaianku berbohong mulai keluar. Begitulah. Aku memang terdesak. Aku sedang membayangkan suatu penderitaan tak berujung. Aku yang tidak cengeng ternyata mendapati mataku sudah berkaca-kaca.

Lamunan dua detik itu buyar karena nada tinggi di seberang sana, “Yang bener! Mama sekarang di gereja! Bapa di mana?”

“Ya udah, bapa ke sana…” kataku sambil meloncat keluar dari kantor polisi mencari taksi.

Aku mulai mendekatkan hape ke telingaku.

“Pah… denger ga?”

“Ya mah, bapa denger.”

“Papah apa-apan sih ngelaporin mobil hilang…?”

Hening sejenak….

“Beginikah hari penghakiman itu…?” pikiranku semakin kacau.

“Mama sekarang di gereja sama polisi! Mama lagi jalan ditangkep polisi nih. Kan bapa tadi mama anterin….”

“Oouw my goodness….” Mataku terpejam dan menekan dalam-dalam badanku ke sandaran jok taksi. Lemas. Tapi kelegaan tiada tara segera mengusir galau.

Makanya….

TS: He he… ini bukan true story. Ini hanya dramatisasi dari sebuah Christian joke. GBU.